Jika ia spektrum, biarkam cahayanya lepas dan mendistraksi satu warna menjadi kumpulan...... Ya ya kita bebas menentukan, bahkan mengakhirkan.
Stay Hungry Stay Foolish
Tuesday, 12 February 2019
Spektrum
Monday, 27 August 2018
Saturday, 9 May 2015
Friday, 18 July 2014
Bajingan
Pernah suatu hari saya ditanya,”Bang, saya ini tattoan. Tapi saya pingin banget sholat. Kira-kira boleh nggak?”. Mendengar itu saya tercekat. Tidak habis pikir. Tentu sekenanya saya jawab. “Lho kenapa tidak? Orang yang tidak tattoan saja, banyak yang tidak mau sholat. Masak anda yang mau sholat, dilarang,”.
Dia bilang, mau menghapus tattonya dulu, baru menghadap Tuhannya. “Saya malu kalau masih tattoan tapi ke masjid,”. Saya jadi pikir. Tattonya sekujur tubuh. Kalau dihapus, sama saja menyeterika satu stel pakaian. Saya bilang,”Biar Tatto itu jadi saksi anda di akhirat nanti,”. Ah, belagak bijak sekali saya ini.
Pernah suatu hari saya naik busway. Ada bapak-bapak berperawakan seram. Badan tinggi besar, kekar, bertatto, dan berkulit hitam khas orang timor. Wajahnya yang brewokan mengingatkan saya pada sosok Eurico Guterez, veteran perang timor timur. Atau memori saya dilarikan ke arah sosok John Kei, salah satu godfather di Jakarta. Tampilannya memang seperti anggota kelompok Sangadji atau Hercules.
Tapi mata teduh bapak itu tak menyiratkan kegarangan yang saya maksud. Malah cenderung dia seperti sufi. Komat-kamit entah sedang menyenandungkan apa. Meski berwajah seram. Kemudian saya perhatikan detail. Hingga akhirnya saya ketemu hal yang menarik. Dia pasang banyak kalung di lehernya seperti layaknya anggota geng. Tapi di antara kalung-kalung rantai yang garang itu, ada kalung kecil yang bandulnya…berlafadzkan Allah!
Saya jadi malu. Bagaimana bisa, saya yang lulusan universitas, mudah sekali menilai orang dari tampilan luarnya saja. Seharusnya, pendidikan makin tinggi, makin dalam pula analisisnya. Makin terbuka cara pandangnya. Tidak gampang gebyah uyah.
Saya jadi ingat kata Pak Ustad. Dia bilang, seandainya tiap dosa yang dilakukan itu ditandai dengan hal-hal yang tampak, maka keluar rumah pun tidak akan berani. Misalnya, dosa bohong, hidung langsung panjang. Dosa dengki, langsung jerawatan. Dosa maksiat, langsung benjol kepala. Dosa ngintipin orang mandi, mata langsung picek. Lah, kalau begini caranya, muka bisa nggak karuan bentuknya.
Untungnya Tuhan maha baik. Eksekusinya ditunda. Nanti habis kita mati. Sehingga kita punya dua pilihan. Terlena karena tak nampak. Atau menjadi takut karena barangkali, setelah dikalkulasi, dosa kita segunung-gunung. Alamak!
Mungkin benar juga kata Wimar. Dia memperkenalkan kita sebuah tagline: Gallery of Rogues dan kebangkitan Bad Guys. Ya barangkali, dia merasa lebih suci dari AA Gym. Atau, jangan-jangan dia merasa telah dikanon jadi santo? Mana saya tahu.
Aa Gym sih santai-santai saja. Mungkin saat tahu namanya masuk nominasi galeri para bajingan (rogue), dia cuma komentar,”Iya memang dulunya saya begitu”. Tapi benar juga sih. Lah wong saya ini bajingan. Teman-teman saya juga bajingan (kecuali yang belagak suci). Meskipun mengakunya ‘mantan bajingan’. Tapi sekali bajingan tetap bajingan. Begitu mottonya. Dulu pernah menjadi bajing. Sekarang tobat, itu lain cerita.
Dan, biasanya, para bajingan kakap ini kalau sudah bertobat, bisa seperti Umar Bin Khattab. Beneran lho. Saya ndak bohong. Lihatlah track record Umar. Anak sendiri pun dibunuhnya. Belum masa lalunya jadi centeng yang ditakuti. Senggol bacok. Tapi kemudian, lihat setelah itu. Dia bahkan lebih pemalu dari seorang wanita yang sedang dipingit.
Saya yang cuma bajingan kelas teri saja, kalau sedang lomba tes keimanan sama teman-teman saya yang bajingan kakap, wah…kalah saya. Mereka ini amat jauh lebih hebat. Meskipun dulu kerjanya cuma mobak-mabok doang.
Semangat mereka luar biasa. Sama seperti semangat saat menjadi bajing dulu. Apapun mereka lakukan. Panas hujan dijabanin. Nggak peduli ada halang rintang. Mungkin begitu kali ya nikmatnya iman. Kadang saya suka iri melihat keteguhan mereka.
Saya jadi ingat kisahnya bajingan ingin tobat. Suatu kali datang ke pemuka agama. Dia mengutarakan pertobatannya. Tapi ditolak. “Kamu sudah tak pantas menghadap Tuhan!”. Saking kesalnya, dibunuhlah pemuka itu. Genap korban pembunuhannya menjadi 100. Lalu dia pergi lagi mencari orang bijak. Lalu dia utarakan. Sang bijak bestari berkata,”Kamu harus pindah dari lingkunganmu sekarang ini. Pindahlah ke lingkungan yang baik,”. Dia patuh.
Pergilah ia ke suatu desa, demi sebuah kebaikan yang ia cari. Tatkala di tengah perjalanan, ia sakit dan akhirnya meninggal dunia. Alangkah bingungnya malaikat. Orang ini menjadi jatahnya surga atau neraka. Akhirnya diambil kompromi. Mari kita hitung jaraknya. Lebih dekat ke desa kebaikan apa ke desa kejahatan? Ternyata setelah dihitung, jasad itu lebih dekat kepada kebaikan. Masuk surga lah si pembunuh 100 nyawa itu.
Siapa bisa menilai? Wong selama ini yang kita lihat hanyalah pencitraan. Kalau ada orang bilang, kita ini orang baik. Aduh, apes sekali! Alangkah tidak nyamannya hidup pakai topeng melulu. Kita sibuk membangun citra dan repot menutup-nutupi kebejatan. Lebih baik apa adanya saja.
Jangan kira, kalau saya sering mengutip quran atau hadis atau kisah-kisah bijak lainnya, berarti saya ini orang baik. Sama sekali bukan. Saya cuma pingin berbagi. Mungkin, berbagi cerita ini bisa jadi amal yang menyelamatkan saya kelak. Meskipun saya nggak pernah sholat tahajud, jarang sholat dan puasa sunnah, ngaji juga jarang, tapi saya pingin juga masuk surga toh. Yang saya bisa cuma berbagi. Meski cerita doang. Simple kan?
Ah, saya jadi terngiang sebuah kisah. Dulu ada seorang sahabat yang tidak dikenal, tapi Rasul bilang dia calon penghuni surga. Para sahabat bingung. Ini orang nggak terkenal, tapi kok bisa ya. Maka seorang sahabat minta izin menginap di rumahnya. Diperhatikan lebih detail, tidak ada yang spesial. Semuanya biasa-biasa saja.
Sholatnya biasa. Puasanya biasa. Ibadah lain juga biasa. Bahkan, sahabat lihat dia jarang sekali mengerjakan hal-hal sunnah. Kemudian sahabat bertanya,”Kok bisa sih, kamu jadi calon penghuni surga? Padahal kamu biasa-biasa saja,”. Kemudian sang sahabat yang tak dikenal itu berkata,”Saya tidak pernah iri kepada siapapun. Saya hanya menjalankan apa yang saya bisa lakukan dan mensyukuri apa yang saya punya saat ini,”.
Baiklah, para bajingan yang terhormat. Bila Ramadhan ini bulan yang ditunggu-tunggu para bajingan -menurut wimar- boleh jadi kita katakan, lebaran itu hari rayanya para bajingan. Hehehe. Anggap saja, kita ini geng para bajingan, seperti kata Wimar. Barangkali Ramadhan bisa melunturkan sifat kebajinganan kita.
Sebelum ditutup. Tentulah saya ingin mengucap banyak terima kasih pada Wimar. Sebab telah mengingatkan kami, pada dasarnya kami ini bajingan. Cuma orang lain nggak tahu kebejatan kami. Biarlah Bung Wimar sendiri yang masuk surga. Kami ikhlas kok
Subscribe to:
Comments (Atom)
